Non Legor, Non Legar
(Aku tidak dibaca, aku tidak akan dibaca)
Ini adalah buku kedua Nietzche yang gue baca, setelah baca bab-bab awal Thus Sprach of Zarathustra. Beberapa temen menganjurkan supaya jangan baca Nietzche terlebih dahulu sebelum ilmu filsafat gue mateng, tapi biar keliatan seorang filsuf eksistensial gue embat aja deh nih buku.
Ternyata beneran kata Mbah Scarface, bahwa buku ini adalah bener-bener buku paling narsis yang pernah ada. Disebut sebagai sebuah buku biografi juga belum layak, apal
agi disebut sebagai sebagai buku filsafat. Mungkin sebaiknya jangan mengkategorikan buku Ecce Homo ini.
Gimana tidak narsis, pada awal membaca daftar isi buku kita akan mengerutkan dahi dengan bab berjudul “Mengapa Aku Demikian Bijak” dilanjutkan dengan bab kedua “Mengapa Aku Demikian Pintar”.
Ecce Homo ditulis sekitar tahun 1885 (tidak ada tanggal yang pasti) sambil menulis buku Nietzche contra Wagner, jadi dua buku ini adalah buku terakhir sebelum Nietzche dinyatakan gila hingga akhirnya
meninggal 5 tahun kemudian.
Karya Nietzche yang satu ini benar-benar ganjil dibandingkan yang sudah kubaca, seperti Zarathustra yang penuh dengan enigma-enigma sastra yang indah. Ecce Homo sepertinya adalah sebuah curhatan ngawur tanpa tujuan yang jelas. Satu hal yang pasti adalah Nietzche adalah sedang melakukan sebuah review terhadap karya-karyanya sebelumnya seperti Birth of Tragedy, Human All to Human, The Dawn serta Zarathustra. Dan seperti orang gila kebanyakan, dia membanggakan karya-karyanya sendiri dengan sangat fenomenal.
Dalam tulisan-tulisanku Zarathustra tegak sendiri. Aku telah, dengan menuliskan buku ini, memberi umat manusia hadiah terbesar yang pernah diberikan kepadanya. Dengan sebuah suara yang berbicara melintasi milenia, ia bukan hanya buku teragung
yang ada, buku faktual dengan udara ketinggian keseluruhan fakta yang ditaruh manusia dalam jarak yang luar biasa di baliknya ia juga merupakan yang paling dalam, lahir dari kumpulan kebenaran yang paling dalam, sebuah sumur yang tak pernah kering, dari dalamnya tidak ada timba uang ditarik ke atas...
Dari potongan di atas kelihatan bagaimana narsisnya seorang Nietzche, selain membangga-banggakan karyanya sendiri, ia juga menulis berbagai hal seperti makanan dan anggur yang ia sukai, tempat paling indah yang pernah ia datangi serta kekagumannya terhadap Wagner dan Schopenhauer.
Akulah yang pertama menemukan kebenaran, akulah yang pertama merasakan dengan idera –mencium—dusta sebagai dusta. Telah kupilih diriku sendiri kata immoralis sebagai marka pembeda dan lencana kehormatan. Aku bangga memiliki kata ini yang mempersiapkan aku melawan segenap kemanusiaan.
Kebencian Nietzche terhadap sebuah fatalisme yang menyebabkan umat manusia terperosok kedalam sebuah dekadensi kehidupan. Sehingga banyak ia menggunakan kata-kata immoralis terhadap dirinya sendiri, sebagai seorang yang merasa dirinya seorang nabi yang akan merubah dunia, seorang Ubermench.
Kelemahan paling utama dari buku ini adalah tidak keteraturan isi dan maknanya misalnya pada bab yang sama, ia menaruh kegemarannya akan makanan yang bergizi dengan konsep mengenai ketuhanan, bener-bener gak nyambung.
Tapi terlepas dari itu, buku ini adalah buku yang paling mudah namun tetap sulit dari karya-karya Nietzche seperti Thus Sprach of Zarathustra. Saat baca buku ini gue harus didampingi dengan kamus bahasa indonesia, kamus bahasa inggris dan tidak lupa kamus filsafat. Jadi kalo ada kata-kata yang sulit, tinggal nyontek kamus. Walaupun kalau boleh jujur, saat nulis review ini, gue belum yakin bisa memahami makna buku ini. Dan aku yakin gak akan ada yang bisa memahami jalan pikiran sang nabi.
Yang jelas karya Nietzche yang satu ini layak untuk dibaca karena benar-benar open minded, kita akan diajak untuk menelusuri jalan pikiran Nietzche oleh Nietzche.
Sekedar info bagi yang merasa pelit untuk beli, buku ini bisa dipinjem di komisariat Gerakan mahasiswa nasional Indonesia komisariat FIA Universitas Brawijaya KertoRahayu 32D. Walaupun sebenarnya adalah buku pribadi gue namun sudah disita oleh komisariat atas nama bangsa Indonesia. NGEPEETTT!!!
MERDEKA!!!!
Seperti kata Nietzche, membaca Thus Sprach of Zarathustra sebanyak enam kalimat akan mengangkat manusia modern ke derajat yang lebih tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar